oleh

4 Bintang Timnas Indonesia Penebar Ancaman bagi Islandia

Timnas Indonesia bakal menjalani uji coba perdana di tahun 2018 dengan menjajal kekuatan kontestan Piala Dunia 2018, Islandia pada Minggu (14/1/2018) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Pertandingan ini jadi medium bagi Luis Milla membangun kekuatan Tim Merah-Putih buat kepentingan Asian Games 2018 yang akan dihelat di Indonesia pada pertengahan tahun ini.

Terlihat jelas kalau nakhoda asal Spanyol tersebut mempriotitaskan pemain-pemain belia. Mayoritas pemain yang dipanggil buat uji coba melawan Islandia pemain-pemain kisaran usia 17-22 tahun.

Saat Asian Games 2018 Indonesia bakal diwakili Timnas U-23 plus tiga pemain senior. Febri Hariyadi, Gavin Kwan, Satria Tama, Hansamu Yama, Evan Dimas, Hargianto, Hanif Syahbandi, Septian David Maulana berkolaborasi dengan sejumlah pemain senior macam Boaz Solossa, Lerby Eliandry, Bayu Pradana, Andritany Ardhiyasa, Andik Vermansah yang jadi pelanggan Tim Merah-Putih beberapa tahun terakhir.

Para pemain senior yang dipanggil saat Tim Garuda menjamu Islandia menjalani seleksi, mengingat hanya tiga pemain di atas usia 23 tahun yang akan ditampilkan di ajang Asian Games 2018.

Islandia bukan lawan enteng bagi Timnas Indonesia. Tiga hari sebelumnya, Olafur Ingi Skulason cs. membantai Indonesia Selection yang dihuni sejumlah pemain-pemain tenar dengan skor 6-0 di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

Islandia datang ke negara kita dengan skuat muda. Pemain-pemain top mereka absen karena kompetisi di Eropa tengah berjalan.

Namun berbeda dengan laga sebelumnya, Islandia tak akan mudah melibat Timnas Indonesia. Berbeda dengan Indonesia Selection, Tim Merah-Putih racikan Luis Milla punya modal kekompakan.

Mayoritas dari pemain Tim Merah-Putih sempat menjalani pelatnas jangka panjang jelang SEA Games. Sepanjang periode 2017 mereka kerap tampil bareng di sejumlah laga uji coba internasional.

Luis Milla tentu juga tak ingin reputasinya tercoreng dengan skor kekalahan mencolok melawan Islandia. Ia menjanjikan pertandingan menarik pada hari minggu ini.

“Kami akan mencoba melakoni laga itu dengan kondisi terbaik. Kami telah melihat pertandingan yang dimainkan Islandia. Mereka adalah tim yang menyerang dan memiliki transisi bertahan yang juga baik,” kata Milla dalam konferensi pers di hotel Fairmont, Senayan, Jakarta, Sabtu (13/1/2018).

“Menurut kami kelebihan Islandia adalah sesuatu yang menarik. Kami akan mencoba menjadikan itu sebagai pengalaman. Kami lantas akan bermain rapat dan juga kolektif. Saya percaya kami akan mempersulit Islandia pada laga besok karena kami juga memiliki skuat yang berkualitas,” lanjut Milla.

Timnas Indonesia yang punya potensi menjadi batu sandungan bagi Islandia. Siapa-siapa saja mereka?

Septian David Maulana

Septian David Maulana saat ini bisa dibilang naik daun. Pemain Mitra Kukar yang juga dipromosikan Luis Milla ke skuat Timnas Indonesia level senior, secara konsisten unjuk ketajaman menjebol gawang lawan. Pemain serbabisa asal Semarang ini jadi goal getter di Timnas Indonesia.

Ia jadi salah satu pemain yang mencetak gol saat timnas mengalahkan Kamboja 3-1. Terakhir, saat Timnas Indonesia U-23 bersua Suriah U-23 pada Kamis (16/11/2017), sang pemain mencetak satu gol dalam pertandingan yang berkesudahan 2-3 tersebut.

Di era Luis Milla, Timnas Indonesia Senior seret raihan hasil positif. Dari enam laga yang dijalani, Tim Garuda hanya menang dua kali saja, dua kali imbang, serta dua kali kalah.

Milla bukan tanpa upaya mencoba mengerek produktivitas tim asuhannya. Ia memasukkan nama bomber naturalisasi, Ilija Spasojevic, dalam barisan skuat utama Timnas Indonesia kala meladeni Suriah U-23 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Sabtu (18/11/2017).

Namun, Spaso yang amat garang di klubnya Bhayangkara FC, juga tak bisa berbuat apa-apa. Timnas Indonesia kalah 0-1 dalam duel itu.

“Senang rasanya bisa menjalani debut bersama Timnas Indonesia, tapi maaf jika saya belum maksimal membantu Indonesia meraih kemenangan,” tutur Spaso usai laga.

Seusai laga Timnas Indonesia melawan Suriah U-23 Luis Milla buka suara menyangkut performa anak-asuhnya yang tak maksimal. Timnas Indonesia sepanjang laga mendapat sekurangnya lima peluang emas, di mana dua di antaranya didapat Boaz Solossa, namun tak satu pun berujung gol. Milla menyebut delapan pemain senior tidak bermain dengan harmonisasi yang baik.

Luis Milla menurunkan delapan pemain senior itu sejak menit awal pertandingan, dengan tambahan Febri Hariyadi, Gavin Kwan Adsit, dan Ricky Fajrin.

Semenjak turun membela Timnas Indonesia U-22 di pentas SEA Games 2017, nama Septian David Maulana selalu jadi pilihan utama Luis Milla. Nakhoda asal Spanyol tersebut terlihat amat suka dengan style bermain Septian.

Septian tipikal pemain depan di era sepak bola modern. Ia bukan striker murni, tapi pemain dengan naluri mencetak gol tinggi dari lini kedua. Ia bisa bermain sebagai gelandang serang, second striker, atau penyerang sayap, dengan kualitas sama bagus.

Besar harapan sang pemain kembali unjuk ketajaman saat Timnas Indonesia meladeni kekuatan kontestan Piala Dunia 2018, Islandia.

Egy Maulana Vikri

Egy Maulana Vikri

Egy Maulana Vikry jadi pemain paling muda di skuat Timnas Indonesia level senior saat ini. Pemain kelahiran Medan, 7 Juli 2000 itu baru genap berusia 17 tahun.

Kehadirannya mengingatkan pada sosok Kurniawan Dwi Yulianto, Boaz Solossa, atau Evan Dimas, pemain muda yang naik kasta cepat ke level senior di usia yang masih amat muda.

Nama Egy meroket sesusai membela Timnas Indonesia U-19, bermain di posisi yang sama dengan superstar dunia Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, pemain didikan Diklat Ragunan tersebut masuk daftar calon pemain bintang Asia versi media ternama Inggris.

Egy yang berpostur munggil, gaya mainnya disebut banyak pengamat mirip dengan Messi. Cepat, punya skill tinggi, berstamina prima, serta haus gol. Di Timnas Indonesia U-19 ia jadi mesin gol utama, walau tidak berposisi sebagai penyerang tengah. Ia sempat jadi top scorer Piala AFF U-18 2017 dengan koleksi delapan gol.

Sang pemain baru saja menjalani tes di sejumlah klub Eropa. Pemberitaan media internasional menyebut kalau Egy tengah menjalin negosiasi dengan sejumlah tim Eropa seperti Legia Warsawa (Polandia), dan Saint-Etienne (Prancis).

Egy Maulana Vikri, menjadi magnet bagi para penggemar ketika menjalani sesi latihan di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (12/1/2018).

Egy melakoni sesi latihan tersebut sebagai bentuk persiapan jelang pertandingan uji coba kontra timnas Islandia, di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Minggu (14/1/2018).

Menurut pantauan Bola.com, Egy terlihat bersemangat dalam sesi latihan yang dihelat pukul 17.00 WIB tersebut. Sang pemain beberapa kali unjuk kebolehan soal teknik olah bola kepada rekan-rekannya.Publik pun terpukau ketika melihat gaya permainan Egy dalam sesi latihan. Pujian tak ayal terlontar kepada sosok berusia 17 tahun tersebut.

“Menurut saya permainan Egy sangat bagus. Dia begitu tenang dalam hal menyerang dan menguasai bola,” kata seorang penonton, Raka, yang menyaksikan sesi latihan timnas Indonesia kepada Bola.com.

Setelah sesi latihan berakhir, sejumlah orang langsung mengerubungi Egy untuk berfoto bersama. Sang pemain pun menunjukkan respons positif dan menuruti permintaan para penggemarnya.Tidak hanya masyarakat Indonesia yang terpesona dengan Egy Maulana.

Luis Milla, terang-terangan menyebut kalau Egy Maulana Vikry berpotensi besar jadi bagian skuat Timnas Indonesia U-23 yang akan berlaga di Asian Games 2018.

“Walau usianya muda, ia cepat beradaptasi dengan pemain lain yang ada di tim. Saya berharap Egy menjaga konsistensi penampilannya. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus ia benahi. Melihat semangat dan kerja kerasnya saya yakin ia bisa jadi pemain besar suatu saat nanti,” tutur Milla.

Islandia kudu kudu mewaspadai pergerakan Egy. Ia akan sangat berbahaya saat mendapat ruang bebas. Kecepatannya mendukung strategi serangan balik. Kemampuan dribel yang mumpuni bakal merepotkan bek-bek Islandia.

Boaz Solossa

Boaz Solossa

Sosok Boaz Solossa jadi pemain berpengalaman yang ada di skuat Timnas Indonesia saat ini. Ia sudah menjalani debut di Tim Merah-Putih di ajang Piala AFF 2004.

Di usia 31 tahun Boaz tetap menjadi salah satu pemain depan elite Tanah Air. Sukses Persipura Jayapura merajai kompetisi kasta tertinggi Indonesia tak lepas dari peran Boaz.

Predator kelahiran 16 Maret 1986 bisa dibilang sebuah fenomena. Sepanjang kariernya, Boaz tiga kali mengalami cedera berat. Uniknya ia selalu bisa bangkit dari keterpurukan.

Sosok Boaz Solossa, yang jadi mesin gol Timnas Indonesia di era pelatih Alfred Riedl. Ia jadi pemain paling produktif di Tim Garuda pada ajang Piala AFF 2016 dengan koleksi tiga gol (plus ditambah tiga gol lagi di masa persiapan jelang turnamen).

Boaz yang didapuk sebagai kapten Timnas Indonesia dinilai punya peran besar menularkan atmosfer positif di skuat Timnas Indonesia yang dihuni banyak pemain muda. Di Piala AFF 2016, Tim Merah-Putih yang absen dari ajang internasional selama dua tahun karena PSSI disanksi FIFA, lolos ke final turnamen.

Sayang di era Luis Milla, Boaz belum terlihat unjuk ketajaman. Tampil di dua bentrok internasional melawan Fiji pada Sabtu (2/9/2017) dan Suriah U-21 pada Sabtu (18/11/2017) bomber haus gol asal Persipura Jayapura gagal unjuk produktivitas.

Namun, Milla terlihat masih menganggap penting sosok Boaz. Keputusan pelatih asal Spanyol tersebut memanggil pemain didikan SSB Putra Yohan Sorong Papua itu saat uji coba melawan Islandia bukan tanpa alasan.

Menghadapi tim kelas dunia Milla butuh pemain punya jam terbang tinggi internasional. Boaz diyakini bisa membuat para pemain muda yang mendominasi skuat Timnas Indonesia lebih percaya diri.

Kehadiran Boaz di tim membuat Luis Milla punya banyak opsi di sektor depan. Bermain di posisi tradisional winger kiri, Boaz juga bisa dirotasi sebagai winger kanan atau penyerang tengah.

Evan Dimas

Evan Dimas

Evan Dimas Darmono jadi pemain yang hangat jadi perbincangan di jagat sepak bola nasional empat tahun terakhir. Pesepak bola belia asal Surabaya tersebut dinilai sebagai pewaris playmaker-playmaker ulung di skuat Tim Merah-Putih.

Setelah era Fachry Husaini, Ansyari Lubis, Firman Utina, kini muncul Evan Dimas sosok berkarisma sebagai pengendali permainan Timnas Indonesia. Dengan modal skill tinggi dan visi bermain ciamik, Evan menjadi pelanggan skuat Tim Garuda sejak usia belia.

Seusai membela Timnas Indonesia U-19 di Piala Asia U-19 2014, ia langsung naik kelas ke Timnas Senior di Piala AFF 2014. Semenjak itu ia hampir tak pernah absen menjadi bagian Tim Merah-Putih siapapun pelatihnya.

Pemain kelahiran 13 Maret 1995 itu pernah dapat kesempatan menjalani trial di dua klub Spanyol, Lagostera dan Espanyol B.

Kehadiran Luis Milla sebagai pelatih Timnas Indonesia makin membuat posisi Evan kian ajeg. Milla merupakan pelatih pemuja sepak bola menyerang, dengan mengedepankan operan bola-bola pendek. Saat aktif bermain ia sempat membela Barcelona dan Real Madrid.

Pemain dengan tipikal Evan Dimas dibutuhkan Milla buat menunjang strategi permainan ala tiki-taka Timnas Spanyol. Saat Timnas Indonesia U-22 berlaga di SEA Games 2017, terlihat benar bagaimana Milla memaksimalkan kelebihan Evan sebagai mesin permainan.

Ia jadi pengatur tempo sekaligus pemasok bola-bola matang yang menghidupkan permainan bola-bola pendek Tim Garuda Muda. Seusai SEA Games, permainan Evan terus menanjak di level klub. Ia mengantarkan klub underdog Bhayangkara FC sebagai kampiun Liga 1 2017.

Penampilannya yang stabil selama setahun ini membuat klub elite Malaysia, Selangor FA, tanpa ragu-ragu meminangnya. Sebagai gelandang tengah Evan punya kelebihan dalam urusan naluri mencetak gol.

Ia seringkali menjadi pemain yang mengejutkan lini pertahanan lawan. Saat membela Timnas Indonesia U-19 Evan jadi pemain spesialis pemecah kebuntuan. Pemain didikan Persebaya Surabaya itu jadi mesin gol tim asuhan Indra Sjafri.

Pembaca Bola.com tentu masih ingat pesona Evan saat mencetak hattrick ke gawang tim kuat Asia, Korea Selatan, pada fase Kualifikasi Piala Asia U-19 2014 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Kala itu Timnas Indonesia U-19 menciptakan kejutan mengalahkan sang juara bertahan turnamen dengan skor 3-2.

Dalam kondisi bugar, Evan Dimas bisa dibilang sudah mendapat garansi menjadi bagian skuat inti Timnas Indonesia U-23 yang akan berlaga di Asian Games 2018 nanti. Saat Timnas Indonesia menjajal kekuatan Islandia ia diharapkan menujukkan taji, sebagai kreator lini tengah.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed